seorang pria dan robot seakan saling bermusuhan

Manusia dan Mesin: Siapa yang Mengendalikan Siapa?

Coba jujur, berapa kali kamu ngecek HP hari ini? Mungkin sejak bangun tidur, kita udah buka hp terus scroll TikTok. Tapi pertanyaannya: kita lagi ngontrol teknologi, atau teknologi yang ngontrol kita?

Dulu Kita yang Bikin Mesin, Sekarang Mesin yang Bikin Kita?

Sejak zaman nenek moyang, manusia bikin alat untuk bantu hidup: kapak batu, roda, mesin uap, komputer. Tapi makin ke sini, alat itu makin “pintar”. Kita sekarang punya AI (Artificial Intelligence) yang bisa ngerti apa yang kita suka, bisa bantu nulis, gambar, bahkan ngomong kayak manusia.

Seorang ahli komunikasi, Marshall McLuhan, pernah bilang:

“Kita membentuk alat, lalu alat membentuk kita.”

Artinya, awalnya kita menggunakan teknologi untuk membantu kita, tapi sekarang justru teknologi mulai membentuk cara kita berpikir, merasa, bahkan berinteraksi.

Kita terus scroling tanpa sadar, dan sistem memilihkan untuk kita tanpa kita minta.

Pernah nggak, kamu buka YouTube dengan niat cuma mau nonton satu video, terus tau-tau udah dua jam nonton random content? Atau baru mikirin beli sepatu, tiba-tiba muncul iklan sepatu di Instagram?

Nah, itu bukan kebetulan. Itu kerja algoritma — semacam otak buatan yang ngerti kebiasaan kita. Bahkan, kata Yuval Noah Harari, penulis Homo Deus:

“Algoritma bisa lebih tahu tentang diri kita daripada kita sendiri.”

Gokil, ya? Tapi juga agak serem.

Kita Ngerasa Bebas, Padahal Lagi Dikontrol?

Kita pikir kita bebas milih, tapi ternyata banyak yang didesain untuk bikin kita ketagihan. Desain aplikasi sekarang bukan cuma soal fungsi, tapi juga soal gimana bikin kamu terus stay, terus klik, terus beli.

Sherry Turkle, psikolog dari MIT, bilang:

“Kita makin sering ngobrol sama mesin, makin jarang ngobrol sama manusia.”

Coba ingat terakhir kali kamu ngobrol serius tanpa gangguan HP. Susah, kan?

Jangan Cuma Pakai Teknologi, Tapi Pahami Juga

Bukan berarti kita harus anti teknologi. Justru kita hidup di era di mana teknologi itu penting — buat belajar, cari kerja, hiburan, bahkan advokasi sosial. Tapi yang penting, kita sadar gimana teknologi bekerja dan gimana pengaruhnya ke hidup kita.

Timnit Gebru, pakar etika AI, bilang:

“AI itu enggak netral. Ia dibentuk oleh siapa yang bikin dan apa tujuannya.”

Artinya, kalau kita enggak kritis, bisa aja kita cuma jadi objek, bukan subjek.

 

Teknologi itu kayak pisau. Bisa dipakai masak, bisa juga nyakitin orang. Bedanya ada di siapa yang pegang. Nah, kita sebagai generasi muda harus jadi pemegang pisau yang bijak.

Kendalikan teknologi, jangan dikendalikan.
Mulai dari hal kecil: matikan notifikasi yang ganggu, batasi screen time, pilih konten yang bikin kamu berkembang, dan jangan takut bilang “cukup” kalau udah merasa dikendalikan.

Karena di akhir hari, jawabannya tetap sama: yang pegang kendali itu kita. Kalau kita mau.

Apakah Semua Manusia Sudah Mendapatkan Hidayah?

| Sebuah Renungan Tentang Hidayah dan Taufik

“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Assalamu’alaikum, sahabat eksplor dakwah semua!

Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata, “Dia belum dapat hidayah, makanya masih begitu hidupnya.” Atau, “Kalau Allah udah kasih hidayah, pasti berubah kok.” Seakan-akan, hidayah itu seperti petir yang nyamber tiba-tiba dan bikin seseorang jadi alim dalam semalam. Padahal… eh, sebentar dulu. Bener nggak sih cara pikir kayak gitu? Yuk, kita gali lebih dalam soal ini!


1. Memahami Definisi: Hidayah vs Taufik

Dalam tradisi ulama, “hidayah” bukan sekadar satu makna. Kata ini punya cabang dan tingkatan. Secara etimologi, hidayah bermakna “petunjuk“. Tapi dalam kajian para ulama, hidayah terbagi menjadi beberapa jenis:

A. Hidayah Al-Bayan (Penjelasan)

Ini adalah hidayah berupa penyampaian kebenaran. Termasuk di dalamnya: dakwah, ajakan kepada Islam, dan tentunya… Al-Qur’an! Nah, inilah hidayah yang sudah tersebar luas. Al-Qur’an, ceramah, Ustadzah TikTok, Ustadz YouTube, meme dakwah—semuanya bagian dari hidayah jenis ini.

Jadi, secara umum: semua manusia sudah punya akses ke hidayah jenis ini.

B. Hidayah At-Taufiq

Nah, ini beda lagi. Ini bukan cuma soal mengetahui, tapi soal mau dan mampu menjalankan. Hidayah taufik adalah kemampuan dari Allah untuk menerima dan mengikuti kebenaran yang sudah diketahui itu. Dan ini… hanya Allah yang bisa kasih.

C. Hidayah Irsyad dan Ilham

Para ulama seperti Ibnul Qayyim juga menyebutkan hidayah dalam bentuk irsyad (bimbingan) dan ilham (bisikan lembut ke hati yang mendorong pada kebaikan). Semua ini terjadi dalam dimensi ruhani yang lebih dalam.


2. Al-Qur’an: Sumber Hidayah Universal

Allah menyebut Al-Qur’an sebagai “hudallinnas”—petunjuk bagi manusia. Bukan cuma untuk orang beriman, tapi semua manusia. Tapi kenapa nggak semua yang baca Al-Qur’an jadi beriman?

Karena akses terhadap petunjuk bukan berarti otomatis berubah. Kayak GPS: kamu dikasih petunjuk jalan, tapi kalau kamu nggak mau belok kanan, ya nyasar juga.

Al-Qur’an itu hidayah secara informasi. Tapi untuk mentransformasikannya jadi jalan hidup, perlu taufik dari Allah.


3. Salah Kaprah yang Umum: “Dia Belum Dapat Hidayah”

Ini kalimat yang sering banget dilontarkan dengan nada penghakiman. Padahal, bisa jadi dia sudah tahu mana yang benar. Tapi hatinya belum diberi kekuatan untuk taat. Atau… bisa juga dia sedang berproses. Belum tentu kita lebih baik dari dia di mata Allah.

Ingat kisah Umar bin Khattab? Sebelum dapat taufik, beliau tahu Islam itu ada. Tapi belum sampai titik Allah beri cahaya di hatinya. Begitu dikasih, BUM! Langsung jadi singa dakwah.

Maka jangan anggap orang yang belum berubah itu belum “dapat hidayah”. Bisa jadi dia belum dapat taufik.


4. Hidayah Itu Ada di Sekitar Kita — Tapi Tak Semua Merespon

Masyarakat kita hari ini sebenarnya hidup di tengah tsunami informasi Islam. Tapi anehnya, kok masih banyak yang jauh dari akhlak Islam?

Jawabannya: karena akses tidak sama dengan respon. Kamu bisa duduk di masjid tiap hari, tapi kalau hatimu tertutup, ya tetap nggak berubah. Sebaliknya, ada orang yang ketemu satu postingan, satu ayat, lalu hidupnya berubah total. Itulah misteri taufik.


5. Penjelasan Ulama Klasik dan Kontemporer

Ibn Taymiyyah rahimahullah

Beliau membedakan antara hidayah berupa ilmu (yang bisa diajarkan oleh manusia), dan hidayah berupa amal (yang hanya Allah bisa berikan). Maka jangan heran kalau ada ustaz yang bisa ceramah panjang, tapi sulit untuk menjaga keistiqamahan dalam amalnya. Karena yang menjaga hati dan amal… hanya Allah. selengkapnya

Imam Al-Ghazali

Dalam “Ihya’ Ulumuddin”, Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia bisa jadi gelap oleh maksiat, hingga ketika cahaya hidayah datang, ia tak bisa memantul. Seperti kaca yang buram, cahaya tetap ada, tapi tak tertangkap.


6. Maka, Jangan Putus Asa dalam Mencari Taufik

Kalau kamu merasa sudah dengar banyak kajian, tapi masih sering jatuh dalam dosa… bukan berarti kamu gagal. Bisa jadi kamu sedang dalam proses mendapat taufik.

Tugas kita adalah terus mengetuk pintu langit. Karena taufik itu bukan hasil usaha semata, tapi anugerah yang turun pada hamba yang terus berharap.


7. Penutup: Yuk, Jadi Penyambung Hidayah

Kita mungkin nggak bisa ngasih taufik pada orang lain. Tapi kita bisa jadi jalan hidayah informasi dan inspirasi. Bisa lewat postingan, senyuman, obrolan ringan, atau jadi contoh nyata dari Islam yang ramah dan teduh.

Sebarkan hidayah. Doakan taufik. Jangan menghakimi. Karena mungkin yang kamu anggap jauh… sedang lebih dekat dengan Allah daripada kamu.

Semoga Allah beri kita semua hidayah dan taufik, hingga kita wafat dalam keadaan mencintai-Nya dan dicintai oleh-Nya.

Aamiin.